Ilmu
Dulu mbah yai sering bilang begini “bertanyalah tentang ilmu”, karena ketika kita bertanya maka ada 4 pihak yang akan mendapatkan hikmah dari pertanyaan tersebut. Pertama, pihak yang akan mendapat hikmah itu adalah pihak yang bertanya. Dengan bertanya orang tersebut akan menjadi “tahu” tentang apa yang ia tanyakan. Pihak kedua yang juga mendapat hikmah adalah pihak yang ditanya. Ketika seseorang ditanya tentang suatu ilmu, orang yang ditanya tersebut akan menjadi lebih mantab tentang ilmunya. kemudian pihak ketiga yang juga dapat hikmah dari pertanyaan tersebut adalah orang yang “sengaja” ikut mendengarkan pertanyaan dan jawabannya tersebut.
Pihak terakhir alias keempat yang juga akan mendapat hikmah adalah orang yang tidak sengaja ikut mendengar pertanyaan dan jawabannya tersebut.

Nah inilah yang mungkin terjadi pada saya (sebagai pihak keempat pastinya) ketika secara tidak sengaja saya mendengarkan sebuah pembicaraan tentang sesuatau hal. Apakah itu???he..he.. Ceritanya begini, waktu pulang dari kuburan, bukan dalam rangka ziarah kubur lho (maklum dulu saya kalo siang sering tidur dikuburan soalnya adem & tenang) kebetulan lewat rumah seseorang. Seseorang itu ya.. bisalah disebut ustadz, sebab kesehariannya memang sebagai guru agama islam disalah satu SD di daerah Pati. Secara tidak sengaja saya mendengar pak guru ini lagi ditanya oleh anaknya yang masih duduk di kelas 3 SD mengenai kunang-kunang.
“Pak-e, punapa kunang-kunang niku kok kagungan lampu nggih? (bapak, kenapa kunang-kunang itu kok punya lampu ya?)”. Sang bapak sungguh terkejut dengan pertanyaan anak kesayangannya itu, Ia sadar bahwa pertanyaan itu butuh penjelasan yang rumit dan tentunya tidak mungkin sang bapak ini memberikan penjelasan yang ilmiah layaknya menjawab pertanyaan seorang mahasiswa. Bapak guru inipun bingung harus memberikan jawaban apa, bingung bukan karena nggak tahu jawabannya tetapi bingung karena memikirkan jawaban yang tepat bagi anak seumuran anaknya.
Setelah beberapa saat terdiam akhirnya sang bapak memberikan jawaban kepada anaknya. Dengan kata-kata yang lembut, ia berkata: “nak itulah keagungan Allah, Allah memberikan kelebihan kepada makhluknya yang lemah sesuatu yang mungkin hanya dimiliki oleh makhluk itu saja. Kamu tahu hikmah dari cerita kunang-kunang?”. Begitu mendapat pertanyaan balik dari bapaknya sang anak hanya menggelengkan kepala. Akhirnya sang bapak mulai bercerita.
“Kunang-kunang itu keluarnya pada malam hari, namun dia sendiri tidak ikut menjadi gelap dalam kegelapan malam tersebut. Bahkan, sang kunang-kunang mampu memberikan penerangan dalam lingkungannya yang gelap itu (paling tidak penerangan itu menerangi dirinya sendiri). Sekarang coba kamu bandingkan dengan laron, laron itu keluarnya pada pagi hari/pada keadaan terang. kalaupun keluar malam, ia pasti akan terbang menuju kedaerah yang terang. kahadirannya justru menutupi cahaya dan laron tersebut tidak mampu terbang dalam keadaan gelap/kurang cahaya. Nah anakku, sekarang coba kamu berpikir!!!Mau jadi apakah dirimu nanti…mau menjadi kunang-kunang yang menerangi orang banyak ataukah menjadi laron yang kehadirannya justru menutupi cahaya”. Mendengar penjelasan dari bapaknya sang anakpun menganggukkan kepala.
Bagaimana???mau jadi apakah kita…….



no comment mbah, ….